Ekonomi Syariah untuk Kita Semua

Perkembangan ekonomi Islam dalam tiga dasawarsa belakangan ini mengalami kemajuan sangat pesat, baik dalam bentuk kajian akademis maupun secara praktik. Perhatian para ilmuwan terhadap ekonomi Islam mulai berlangsung sejak tahun 1960an, antara lain dikembangkan oleh Kursyid Ahmad, Dr. M. N. Shiddiqy, dan Dr. Umar Chapra. Buah dari kajian mereka itulah yang mengantarkan pendirian IDB pada tahun 1975 di Jeddah. Memasuki abad 21, ekonomi Islam sudah sangat berkembang, mulai dari sistem keuangan hingga kajian-kajian ilmiah ekonomi Islam dengan banyaknya universitas ternama di dunia mulai membuka jurusan ekonomi Islam.

Sejak tahun 1970-an, kajian ilmiah dan riset tentang ekonomi Islam yang bersifat empiris terus dilakukan dan disosialisasikan ke berbagai negara sehingga gerakan akademis ekonomi Islam makin berkembang. Sejak tahun 1990-an, studi ekonomi Islam telah dikembangkan di berbagai universitas baik di negeri-negeri muslim (khususnya Asia dan Afrika) maupun di negara-negara barat seperti Eropa, Amerika Serikat dan Australia. Di Inggris terdapat beberapa universitas yang mengembangkan kajian ekonomi Islam (Islamic Economics) seperti Durham University, Reading University, Markfield Institute of Higher Education, University of Wales Lampater, Aston University, Loughborogh University, dll. Di Amerika Serikat sebuah universitas ternama di dunia, yaitu Harvard University sangat aktif mengadakan kajian ekonomi Islam. Selain itu University of Strasbourg (Perancis), University of Wollongong (Australia) terdapat jurusan ekonomi Islam.
Selain dalam bidang kajian ilmiah, berkembang pula lembaga keuangan syariah, bukan hanya di sektor perbankan tetapi pasar modal, asuransi, pegadaian, bahkan saat ini mulai berkembang pariwisata syariah, hotel syariah, dll. Perkembangan ekonomi Islam tidak hanya terjadi di negeri-negeri muslim saja, tetapi di negeri-negeri yang mayoritasnya non muslim pun sudah mulai berkembang sistem keuangan syariahnya. Seperti di Inggris yang mempunyai 22 lembaga keuangan syariah dan 5 sepenuhnya bersetatus bank syariah. Selain Inggris, Prancis, Jepang, Jerman, Italia pun sedang mengembangkan sistem ekonomi Islam. Ini merupakan salah satu bukti bahwa ekonomi Islam bukan hanya untuk umat Islam saja tetapi non muslim pun dapat menerapkannya.

Seperti kita ketahui, Inggris bukanlah negara yang mayoritas masyarakatnya muslim, namun negeri Ratu Elizabeth itu tercatat sebagai negara yang ekonomi Islamnya paling maju. Sebuah studi mencatat, Inggris adalah negara yang memiliki bank syariah terbanyak dibandingkan negara Barat lainya. Aset perbankan syariahnya mencapai US$ 18 milyar (£12 milyar) melebihi aset bank syariah di Pakistan, Bangladesh, Turki dan Mesir. Meski ekonomi Islam tak berasal dari negara-negara Eropa, tetapi saat ini banyak negara-negara di Eropa yang mulai memperhitungkannya.

Tidak seperti ketika kita hendak membeli sebuah properti, di mana semakin dalam kita masuk maka semakin banyak kekurangan atau cacat yang akan kita temukan, atap yang bocor, tembok yang retak, atau rangka kayu yang mulai lapuk. Semakin dalam kita masuk dan mengenal ekonomi syariah, maka semakin indah nilai-nilai yang akan kita temukan, dengan universalitas yang tinggi, ekonomi syariah dapat diterima oleh siapa saja bahkan semua agama. Melihat kerapnya kita mempermasalahkan perbedaan di antara kelompok manusia, alangkah bijaknya bila kita lebih fokus melihat di mana kita bisa bertemu. Setidaknya, manusia di seluruh penjuru bumi ini menghadapi masalah yang sama dan membutuhkan upaya bersama untuk menyelesaikannya, kerusakan lingkungan misalnya. Nilai-nilai yang menjadi pondasi dalam ekonomi syariah sangat mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, dapat kita lihat pada hadist berikut yang diriwayatkan oleh Abu Dawud Al-Anshari,

”Jika engkau mendengar bahwa Dajjal telah keluar, padahal engkau masih menanam bibit kurma, maka janganlah engaku tergesa-gesa memperbaikinya, karena masih ada kehidupan manusia setelah itu“.

Dari hadist tersebut, kita dapat melihat bahwa dalam Islam yang kemudian diterjemahkan ke dalam aktivitas ekonomi Islam, haruslah memberikan perhatian yang lebih kepada keberlangsungan lingkungan hidup. Baik dari sisi produksi maupun konsumsi, setiap aktivitas ekonomi harus berbuah keterjaminan keberlangsungan lingkungan hidup. Bahkan ketika berada di dalam persaingan sekalipun, manusia tidak boleh mengorbankan lingkungan untuk mencapai tujuannya, hal ini diperkuat oleh Al Auza’i (Tuhfadzul Ahwadzi 5/133) bahwa,

“Abu Bakar melarang pasukan kaum muslimin untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk suatu negeri atau menebang pepohonan yang ada”.

Isu perubahan iklim atau climate change cukup mempengaruhi pola bisnis secara global. Jargon-jargon hemat energi dikampanyekan melalui langkah-langkah kecil dalam kehidupan sehari-hari, semisal mematikan lampu yang tidak perlu atau pada saat tidur. Kantor-kantor di kota besar, baik swasta maupun pemerintah diminta untuk melakukan penghematan energi melaui upgrading teknologi dan mengoptimalkan pemanfaatan cahaya matahari. Jauh sebelum isu climate change ini mengemuka, Islam sudah terlebih dahulu menyeru manusia untuk melakukan penghematan, firman Allah dalam Q.S. Al-Isra: 27,

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”.

Dalam seruan yang lebih praktis, diriwayatkan oleh oleh Muslim, Rasulullah bersabda,
“Janganlah kalian meninggalkan api di dalam rumah kalian ketika akan tidur”.

Melihat ke kitab suci agama selain Islam, kita juga akan menemukan nilai-nilai universal yang juga menjadi dasar ekonomi syariah, terutama terkait pelarangan riba/bunga. Istilah Kusidin dalam naskah India kuno menunjukan betapa terhinanya profesi sebagai lintah darat, sedangkan istilah Neshekh yang digunakan untuk menyebut riba/rente dalam naskah-naskah Ibrani secara harfiah dapat berarti ‘menggigit’, hal ini menunjukkan betapa riba menyengsarakan masyarakat dalam perspektif Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Indonesia mempunyai berbagai macam produk syariah baik dari pasar modal, asuransi dan sektor perbankan. Salah satu produknya adalah sukuk, sukuk merupakan salah satu instrument investasi yang ada di Indonesia. Dari segi sejarahnya, sukuk ternyata produk yang sudah dikenal lama, hal ini dapat ditemukan dalam berbagai literatur Islam klasik dengan berbagai nama, seperti Sukuk, Sakk atau Sakaik. Istilah tersebut diartikan sertifikat atau dokumen dan umumnya digunakan sebagai alat pembayaran. Imam Malik menjelaskan dalam kitab Al-Muwatta’ bahwa sukuk telah digunakan sejak abad pertama hijriah, yaitu pada masa pemerintahan Khalifah Al-Marwan ibn Al-Hakam, dinasti Bani Umayah.

Saat ini Sukuk sudah diperkenalkan oleh Kementerian Keuangan RI, terakhir Pemerintah menerbitkan Sukuk Negara Ritel Seri-006. Perbedaan mendasar antara Sukuk dan obligasi terletak pada underlying asset. Dengan adanya underlying asset, return yang diberikan terkait secara langsung dengan aset dan tujuan pendanaannnya. Selain itu, adanya keharusan menggunakan underlyinh asset dalam penerbitan, menempatkan sukuk memiliki tingkat keamanan yang cukup terjamin. Sedangkan dalam obligasi, return tidak terkait secara langsung dengan tujuan pendanaannya. Jadi, sukuk merupakan pilihan yang sangat ideal untuk berinvestasi dibandingkan obligasi.

Produk syariah yang lainnya adalah asuransi syariah dimana asuransi berfungsi sebagai pelindung resiko, baik resiko yang terjadi terhadap diri, keluarga maupun harta benda. Asuransi menjadi suatu kebutuhan karena asuransi mempunyai manfaat luar biasa ketika seseorang terkena resiko. Dalam asuransi syariah, bukan berarti diperbolehkan untuk memindahkan resiko ke pihak penyedia asuransi, tetapi resiko dibagi di antara para peserta dalam skema asuransi syariah. Prinsip asuransi syariah menggunakan prinsip tolong menolong, ibaratnya ketika satu peserta asuransi terkena musibah, maka peserta yang lain akan otomatis membantu dengan premi yang dibayarkannya. Prinsip ini sangat menguntungkan peserta asuransi baik peserta muslim maupun non-muslim. Jadi, buat apa kita masih menggunakan asuransi konvensional yang prinsipnya tidak sejelas asuransi syariah.

Saat ini Bank Syariah menjadi primadona dibandingkan dengan industri keuangan syariah lainnya. Salah satu produk pembiayaan syariah yang paling banyak digunakan adalah murabahah. Keuntungan pembiayaan di Bank Syariah jika memakai akad Murabahah adalah harga tetap walaupun ada keterlambatan pembayaran dengan catatan nasabah tidak sengaja melambat-lambatkan pembayaran. Selain itu, apabila nasabah mempunyai rezeki lebih dan berniat melunasi pembiayaan sebelum waktunya maka tidak ada denda atau penalty seperti di Bank konvensional.

Penjelasan di atas tentunya akan membuat kita semakin yakin akan produk-produk syariah. Bagi kaum non-muslim tentunya akan berpikir ulang untuk menggunakan produk konvensional karena banyak sekali orang yang terlilit utang karena faktor bunga yang terus menerus fluktuatif dan menjerat. Jadi, sudah saatnyalah kita beralih ke Sistem Ekonomi Islam dan menggunakan produknya.

Penulis :

Ricky Dwi Apriyono (rd.apriyono@gmail.com)
Khairul Adianto (khairul_adianto@yahoo.com)
Muhamad Rizky Rizaldy (rizaldy.sef@gmail.com)

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: